Advertisement

Rabu, 24 Agustus 2011

Mantan Teman?


 
Aku dan Saka merupakan sahabat yang terkenal kompak. Setiap ada Aku di situ pasti ada Saka. Setiap hari aku dan Saka pergi ke kampus bersama, pulang bersama dan melakukan aktivitas di kampus selalu bersama. Banyak yang mengira aku adalah sepasang kekasih. Namun, aku tak ambil pusing dengan pendapat itu. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara, sedangkan Saka adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Saka selalu melindungiku dari apapun, yang dapat membahayakan aku.
Awal perkenalan aku dan Saka terjadi ketika kami mendaftar di universitas yang sama. Awalnya aku membenci pria yang berdiri yang dengan pakaian sangat rapi, mengenakan kemeja putih bermotif vertikal hitam, dengan celana bahan hitam pula. “ganteng juga tuh cowo, tapi pakainnya rapi banget, gue aja pake baju yang udah belel” gumamku dalam hati sambil terus menatap ke arah pria itu. Aku tersentak kaget, ketika pria itu melihat ke arahku. Dengan sedikit senyum aku mencoba mencairkan suasana. Kemudian pria itu datang menghampiriku, “mampus gue, duh…bego banget si gue ketangkep basah lagi ngeliatin dia” celotehku dalam hati.



“hai!” sapa Pria itu, dengan senyum kecut aku membalas “hai, juga”. Pria itu mengulurkan tangan kepadaku dan berkata:
Kenalin, nama gue Saka, nama lu siapa?”, dengan nada yang halus dan senyum manisnya. Kemudian aku menjawab,
“Nama gue Raya.” Sambil tersenyum dan bergumam dalam hati, “baik, banget sich nich cowo”.
Dari perkenalan itu ternyata aku dan Saka menjadi teman baik. Saka selalu ada untukku, baik aku dalam keadaan senang maupun sedih. Kami ternyata satu fakultas dan satu jurusan, namun kami berbeda kelas. Setiap hari aku dan Saka bergantian saling menunggu satu sama lain, ketika aku masih ada kelas, Saka menunggu aku, begitu pun sebaliknya. Saka sangat baik padaku, aku beruntung sekali memiliki sahabat seperti Saka.
Persabatan aku dan Saka telah terjalin hampir dua tahun, diam-diam aku menaruh perasaan pada Saka, aku jatuh cinta pada Saka. Pria yang telah aku anggap sebagai kakakku sendiri, ketulusan Saka membuatku mengaguminya, bukan sebagai kakak atau sahabat, tetapi sebagai lelaki sesungguhnya. Aku telah mengatakan hal ini pada Saka, dan Saka hanya terdiam ketika aku mengatakan ini. Saka memaklumi perasaanku padanya.
Ketika itu aku tidak masuk kuliah satu hari karena ada acara keluarga, jadi terpaksa aku mengikuti mata kuliah itu di kelas Saka. Aku memang terkadang suka berbicara kasar pada Saka, tanpa aku sadari Saka marah kepadaku. Aku sungguh tak bermaksud berkata itu kepada Saka. Aku kira masalah itu akan segera berakhir, tapi ternyata hari demi hari masalah itu semakin runyam.
Saka tak pernah lagi menjemputku ketika aku berangkat kuliah, selama di kampus aku hanya sendiri. Saka pura-pura tidak melihatku ketika aku melihatnya. Aku telah meminta maaf pada Saka, namun tetap tidak digubris olehnya. Di rumah aku membuat puisi untuknya.



Belajar

Kali ini aku belajar
Dari buku aku belajar
Dari pengalaman hidup aku belajar
Dari kisah teman aku belajar
Dari para sahabatku aku belajar
Dari kisah mereka aku belajar
Dari kisahku aku belajar
Dari waktu aku belajar
Dari hati aku belajar
Dari kata aku belajar
Dari ucapan aku belajar
Dari apa yang kulihat aku belajar
Dari apa yang kudengar aku belajar
Dari apa yang kucium aku belajar
Dari apa yang kurasa aku belajar
Dari apa yang kuraba aku belajar
Dari semua yang ada aku belajar
Dari duniaku aku belajar
Dan selamanya aku takkan berhenti untuk belajar
Aku buat puisi itu untuk Saka. Namun, sikap angkuh Saka membuatku kesal, aku benar-benar kesal pada sikap Saka. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranya. Mengapa tiba-tiba ia menjauhiku. Aku tahu pernah berkata yang mungkin menyakiti hatinya. Tapi aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu.
Setelah beberapa hari, aku kaget ketika ada sms dari Saka, ia menanyakan keadaanku. Aku sangat senang sekali, ketika ia menghubungiku lagi. Ternyata, Saka menginginkan aku berubah dan lebih berhati-hati dalam berbicara.
Kami saling introspeksi diri. Kami mulai memperbaiki persahabatan kami yang kemarin sedikit kacau karena kesalahanku. Saka kembali menjemputku kuliah, kami kembali seperti dulu. Aku bahagia sekali, namun aku tak menduga ketika ada kabar yang membuatku seperti tertimpa langit. Ketika di kamar mandi, Raya mendengar percakapan kedua mahasiswa.
Lu tau nggak, si Saka kan udah jadian sama Indah?”
“Masa sich? Tapi, emang bener apa mereka udah jadian? Gue sich emang pernah ngeliat mereka jalan bareng
Bener lagi mereka udah resmi jadian satu minggu yang lalu.”
Raya segera keluar dari dalam kamar mandi dengan kondisi wajah yang pucat, dan kedua mahasiswi itu menghentikan percakapnya. “Saka udah jadian sama Indah? Satu minggu yang lalu, itukan hari waktu Saka mulai sms gue” gumam Raya dalam hati. Saka melihat kondisi Raya yang pucat, cepat-cepat ia menghapiri Raya.
“Aya, lu kenapa? Kok lu pucet? lu belom sarapan bukan? Apa lu lagi sakit?” Tanya Saka panjang lebar pada Raya.
Gue ngak apa-apa Ka, lu tenang aja”. Jawab Raya.
Nggak apa-apa gimana? lu tuh pucet tau nggak?” bantah Saka cepat.
Saka, mengantarku pulang. Sesampainya di rumah Saka langsung menggiringku ke kamar. Aku masih belum sanggup untuk berkata-kata. Aku hanya bisa menangis, bukan karena Saka berpacaran dengan Indah, tapi mengapa Saka tak memberitahuku.
“Aya, lu kenapa sich?” Tanya Saka.
“Ka, gue sahabat lu kan?” Raya bertanya balik.
“Iya, Aya… lu kok nanya kayak gitu, udah dong lu jangan nangis.
“Tapi…, kenapa lu nggak jujur sama gue kalau lu udah jadian Ka?” dengan suara terisak Raya menayakan hal itu. Muka Saka sedikit menegang.
Lu tau kabar itu dari siapa Aya?”
“Jadi itu bener Ka? Lu udah jadian tanpa sepengetahuan gue? Kenapa Ka?” suara Aya semakin meninggi dan tangisanya meledak.
Dengan suara yang tenang, Saka Menjawab
Maafin gue Aya, gue Cuma nggak mau nyakitin lu, gue tahu lu punya perasaan sama gue, makanya gue jadian diem-diem sama Indah”
Gue ngomong suka sama lu, ngak pernah ada niat buat jadian sama lu Ka, gue cuma pengan lu tahu perasaan gue ke lu, cuma itu, gue nggak pernah larang lu buat suka or sayang sama orang laen, gue cuma takut kehilangan lu Ka.” Tangis Raya semakin menjadi-jadi.
Saka hanya bisa terdiam dan berpamitan pulang. Saka tahu jika ia menjawab maka keadaan akan semakin memburuk. Akhirnya Raya menangis sampai tertidur. Persaan Raya sangat kacau, ia belum bisa menerima ini semua.
Keesokan harinya Raya pergi ke kampus sendiri, tanpa sengaja ia melihat Saka telah berduaan dengan indah. Cepat-cepat ia mengalihkan pandanganya kepada yang lain. Ia berjalan gontai menuju belakang kampus. Segera ia keluarkan kertas dan mulai menulis.
Mataku kembali terjaga
Nalaku kembali bekerja
Segala menjadi nyata
Semua itu karena kau ada

Sekarang segalanya hampa
Ketika kau telah tiada
Ketika kau telah memilihnya
Ketika itu juga kuterluka

Kali ini aku menangis
Kejadian ini sangat tragis
Kali ini aku kritis
Tak ingin kukembali teriris

Apa aku harus bertahan
Ketika melihat kau berduaan
Ketika kau memberi kecupan
Membuatku kesetanan

Sungguhku sangat sedih
Ini sangat pedih
Aku kembali rintih
Berjalanku dengan tertatih

Aku sangat lemas
Namunku tak mau memelas
Aku mencoba ikhlas
Agar semuanya menjadi bebas

Ini semua perasaan gue ke lu Ka gue tulis ini semua Ka. Kalo bisa triak gue udah triak Ka. Nggak sang
            Belum selesai Raya menuliskan perasaannya, tiba-tiba Saka datang, Raya segera bangun dan berlalu meninggalkan Saka tanpa sempat Saka berkata apapun. Kertas yang baru saja ditulis Raya jatuh tanpa ia sadari. Kertas itu dipungut Saka, dan ia pun membacanya. “Maafin gue Aya, sebenernya gue juga sayang dan suka sama lu, tapi gue tahu kalo gue nggak pentes buat lu” gumam dalam hati Saka.
            Beberapa hari berlalu, akhirnya Raya dapat menerima kenyataan itu. Lagi-lagi Raya pergi ke kempus sendiri. Sesampainya di kampus, Raya datang menghamiri Saka sambil mengulurkan tangan berkata
Gimana pun, selamanya nggak akan pernah ada mantan temen Ka”. Keduanya pun tersenyum.




0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates