Advertisement

Selasa, 23 Agustus 2011

Apa Salahnya Adat?


Bunga mawar putih (dari genus Rosa) dan sekumpulan bunga krisan atau yang dikenal dengan nama latin Chrysanthenum, menghiasi resepsi pernikahan kakak. Bau bunga krisan memang tak begitu harum, namun warna-warni bunga itu sangat indah. Dekorasi pelaminan telah hampir sempurna. Sendok, garpu, piring telah tertata rapi. Acara resepsi ini akan dimulai beberapa jam lagi.

Mempunyai pasangan hidup, adalah impian setiap orang. Tidak terkecuali aku, itu adalah mimpiku sejak kecil. Keluargaku kuno, masih saja mengunakan tradisi zaman dahulu. Tapi, kupikir tak apalah. Siapa yang tak mau mempunyai belahan jiwa? Hidup dengan orang yang dicintai dan mencintai diri kita. Aku menyesal tentang hubunganku yang harus berakhir dengan kekasihku karena perbedaan adat. Kubayangkan pelaminan yang bersofakan coklat itu, adalah tempat dudukku bersama Nai. Tapi sayangnya pelaminan itu milik kakak, bukan aku. Foto prawedding mulai dipasang, aku hanya bisa melihat raut wajah kebahagiaan pada foto yang berfigura warna emas itu. Senyum yang benar-benar bahagia.


Suara petasan yang gaduh mulai berbunyi, bising rasanya. Tempat resepsi itu masih sepi, hanya aku yang sedang berdiri dan berjalan kesana kemari, dan sesekali orang yang menata hidangan makanan lewat, sambil membawa baskom besar yang berisi rendang, kimlo, dll. Aku hanya bisa membayangkan andai ini adalah pesta pernikanku dengan Nai. 

”Rie...” namaku dipanggil oleh ayah. Aku berjalan ke belakang pelaminan. Rupanya penata rias telah datang, aku harus didandani layaknya adik putri. Skin toner mulai menyapu wajahku dengan kapas. Wajahku terasa dingin, kemudian alas bedak mulai menyebar di wajahku. Alisku yang agak berantakan, mulai dirapikan dengan sedikit dikerik.

Air dipelupuk mata tak tertahan lagi, ketika bulu mata palsu itu mulai menempel dan menyatu bersama bulu mataku. Bulu mataku, memang tak selebat kakak. Hidungku yang bulat mulai diberi sedikit shadding. Sampai pada tahap akhir bibirku  mulai diberi lipstik merah muda yang dicampur sedikit warna merah kecoklatan.

Aku bak adik putri yang paling menderita sedunia, cantik namun hati tengah terluka. Senyum menipuku mulai berkembang, semua mata yang melihatku tak pernah berhenti memuji kecantikkanku. Aku harus berjalan anggun dengan sendal hak 7cm yang kupakai. Aku memang terlihat layaknya seorang putri, namun sebenarnya hatiku rapuh, tak sama seperti hak sendalku yang benar-benar kuat menopang badanku. ”Nai...” hanya itu yang ada dalam pikiranku. ”Betapa bodohnya aku meninggalkanmu, aku tahu saat ini kau sangat membenciku, namun sungguh itu semua bukan inginku.” Gumamku dalam hati.

Aku telah mengetahui akhir dari cerita cintaku dengan Nai, aku takkan pernah mendapatkan restu dari orang tuaku. Budaya dan tempat tinggal kami yang berbeda membuat keluargaku tak mungkin menyetujui hubunganku dengan Nai. ”kita orang sunda, sudah sepantasnya menikah dengan orang sunda atau jawa, jangan sampai menikah dengan orang sebrang”, kurang lebih itu adalah protes keras keluargaku, kepada anak-anaknya agar kami mencari jodoh orang sunda pula atau orang yang satu pulau

Baiklah aku tak ingin berseteru lebih panjang dan beradu argumen dengan kedua orang tuaku, akhirnya kuakhiri saja hubunganku dengan Nai. Sampai berakhirnya hubunganku dengan Nai, keluargaku tak pernah tahu bahwa selama lima tahun belakangan ini aku menjalin kasih dengan Nai. Aku berpacaran dengan Nai tanpa sepengetahuan keluargaku.

Aku masih ingat ketika aku mengatakan putus dengan Nai. Kecewa, marah, kesal, sedih itu yang dirasakan Nai terhadapku. Aku tak mampu lagi denganmu Nai, ucapku lirih saat aku memutuskan hubunganku dengan Nai. 

”Apa alasanmu berkata seperti itu? Bulan depan keluargaku akan memintamu untuk menjadi tunanganku. Aku telah menjadi arsitek, aku telah mempunyai pekerjaan yang tetap. Apa itu masih kurang untukmu?” batah Nai kepadaku. Aku hanya bisa terdiam tanpa dapat menjawab pertanyaan Nai.

Aku tak mungkin mengatakan, alasan mengapa aku memutuskan hubungan ini. Pasti Nai akan berpikir aku ini manusia modern yang hidup pada kebudayaan primitif. 

”Kau tahu Rei, aku berusaha keras menyelesaikan kuliahku hanya untuk membuatmu bahagia setelah kita menikah nanti. Jika memang kau tak mau kunikahi karena alasan kau masih kuliah, aku mau menunggumu Rei. Kita berpacaran bukan setahun atau dua tahun Rei... lima tahun kita berpacaran, apa masih kurang waktumu untuk mengenalku?” Nai terdengar menahan amarah saat mengatakan itu. Aku hanya bisa tertunduk dan berlalu meningglkan Nai. Aku tak sanggup melihat wajah Nai yang sangat kecewa dan begitu marah.

Pikirku masih melayang ketika pengantin telah duduk di pelaminan, bunga melati (Jasminum Sambac, Ait) yang harum  berbelit di kepala kakak, mawar merah merona menambah anggun riasan di kepalanya. Kembali aku membayangkan bahwa pernikahan ini adalah pernikahan aku dengan Nai, bukan resepsi pernikahan kakak. Cintaku dan Nai harus kalah dengan kebudayaan dan adat yang berbeda. ”Aku tak habis pikir mengapa cintaku harus kalah karena sebuah kebudayaan? Mengapa ini semua terjadi padaku?” seruku dalam hati.

Tamu-tamu mulai berdatangan, resepsi pernikahan kakakku cukup ramai. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku merasa risih, mengapa para tamu ingin mengetahui kapan aku menyusul kakak menikah. Mauku mulut mereka itu diam saja, tak perlu banyak bicara. Datang ya datang saja, tak perlu bertanya macam-macam dan ingin tahu lebih banyak tentang aku. 

Sebulan telah kulalui tanpa Nai di sampingku, aku merasa asing dalam keramain pesta ini. Aku benar-benar merasa sendiri, sekali-kali kubuka handphone yang masih merekam kebersamaan aku dan Nai di dalam foto. Aku tersenyum melihat kegilaanku dengan Nai, kadang aku ingin kembali lagi ke waktu itu. 

Aku bahagia sekali ketika aku diajak Nai pergi ke daerah pegunungan, banyak sekali foto-foto kami disana. Aku terlihat sangat manja pada Nai, usia Nai memang lebih tua empat tahun dariku. Nai sangat sabar sekali menghadapi tingkah polaku padanya. Tak pernah kudengar Nai mengeluh tentang aku. Aku masih ingat ketika aku terpeleset melewati genangan air, kemudian Nai membantuku berdiri dan membersihkan lukaku. 

”Mungkinkah kan kudapatkan lelaki sebaik Nai?” tanyaku dalam hati. Aku duduk jauh dari kerumunan banyak orang, aku sungguh merasa tersiksa berada di pesta ini. Aku masih melihat fotoku bersama Nai. ”Nai, aku kangen,” lagi-lagi batinku merintih. Mau tak mau aku kembali ketempat resepsi, rasanya tak enak meninggalkan resepsi pernikahan terlalu lama.

Pintu mobil sedan hitam terbuka, kulihat Nai turun dari mobil itu. Aku tak menyangka Nai masih mau datang ke pesta pernikahan kakak. Kusambut Nai dengan hangat, tak terasa air mataku menetes ketika aku berjabatan tangan dengan Nai. Nai berusaha menghapus air mata itu, namun segera kusapukan tissu yang tengah aku penggang di tangan kiriku.

”Mengapa kau menangis Rei?” Tanya Nai.
”Aku tak menangis Nai, hanya mataku sedikt perih karena tak terbiasa menggunakan bulu mata palsu” bantahku.

Aku mengantarkan Nai ke pelaminan, namun kakak ingin kami berfoto bersama. Aku berdiri di samping Nai, aku tersenyum bahagia ketika di foto. Lagi-lagi kubayangkan itu adalah pernikahanku dengan Nai. Kami seperti sepasang pengantin, karena aku hanya meminta di foto bersama Nai sambil memegang bouquet mawar. Setelah di foto beberapa kali, kami menuju tempat duduk, karena Nai tak mau makan. 

Nai terus menatapku, namun aku tak berani menatap wajah Nai. Sungguh aku masih sangat mencintai Nai.
”kau terlihat cantik saat ini Rei!” puji Nai kepadaku.
”jadi selama ini aku jelek ya Nai?” jawabku sedikit bergurau. Nai menggelengkan kepala sambil mengusap kepalaku. 

Kembali Nai bertanya tentang keputusanku yang telah mengakhiri hubungan kami. Aku tetap pada keputusanku berpisah dari Nai. Aku tahu Nai sangat kecewa. Tanpa berkata apapun, Nai langsung berlalu meninggalkan pesta itu dan meninggalkanku. Aku hanya dapat melihat bagian belakang tubuh Nai yang terus berjalan meninggalkanku dan semakin jauh dariku. ”Maafkan aku Nai, aku harus melakukan ini. Bukan hanya perasaanmu yang sakit, perasaanku lebih sakit, karena menyakiti hati orang yang sangat aku sayangi.” rintihku dalam hati.

Setelah resepsi itu selesai, aku langsung meminta hasil cepretan fotoku yang bersama Nai. Aku langsung masukkan foto itu kedalam falsdisk. Aku pulang sendirian dengan langkah gontai, yang ada dalam pikiranku hanya Nai. ”Tuhan mengapa aku dilahirkan di keluarga seperti ini, aku tak pernah mengerti tentang pemikiran keluargaku.” ucapku dalam hati. Aku terus menangis, ketika cintaku berakhir seperti ini karena perbedaan adat. ”Apa salahnya ada pernikahan berbeda adat? Toh di agama tidak diberi larangan menikah dengan adat tertentu.” lagi-lagi batinku protes.

Sesampai di rumah, aku langsung mencetak fotoku yang bersama Nai. Tak pernah kusangka hari ini adalah hari terakhir aku dapat melihat Nai. ”Nai akhirnya kau benar-benar pergi meninggalkanku.” ucapku lirih sambil terus menangis dan menatap foto kami yang berada di pelaminan.

*SELESAI*

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates