Buat Mama,
Ma, kadang ada bisikan kebencianku pada mama. Bisikan tentang betapa buruknya mama. Tak pernah aku berpikir dan membalik posisi seandainya aku jadi mama. Ma, bisikan kebencianku pada mama semakin menjadi-jadi, karena setiap hari mendapat suntikan kebencian untuk membenci mama. Ma, bagaimanapun mama adalah ibuku. Ma, mungkin tak pernah kau melihat putrimu menangis karena ingin dipeluk mama. Merasakan hangat sentuhan dan dekapan mama.
Ma, putrimu sesungguhnya rapuh. Ma, sekarang aku belajar seandainya aku jadi mama, merasakan bagaimana masakan yang telah dibuat tak ada yang menyentuh. Aku tahu rasanya pasti sedih. Masakan yang dibuat dengan cinta untuk suami dan anak tersayang hanya sekedar dilihat dan tak disentuh apalagi dimakan. Maaf ma, bukan aku tak ingin, tapi suntikan kebencianku ketika itu masih dalam dosis yang sangat tinggi. Kali ini aku sadar, aku minta maaf ma. Sesungguhnya aku rindu di manja dan dipeluk mama. Ma, sampai kapanpun aku tetap anak mama. Putri kecil mama. Putri kecil yang selalu mama anggap masih anak-anak. Ma, doaku semoga mama bahagia. Sungguh ma, aku sayang mama.
Aku kangen mama… Maafkan selalu putri kecilmu…
Ma, jauh dari rumah membuat aku semakin mengerti akan arti kehidupan. Terima kasih telah mengizinan aku keluar dari rumah.
Buat Bapak,
Bapak, bagiku kau ayah dengan sejuta kasih yang kau berikan padaku. Aku masih ingat ketika tangan-tangan kasarmu mengupas kulit buah rambutan dan membuang bijinya lalu kau berikan daging buahnya padaku. Aku hanya bisa diam melihat perbuatanmu ayah. Ketika itu usiaku masih di bawah 5 tahun. Kau sering menggendongku ke sana ke mari. Ayah berjuta kasih sayangmu banyak kurasa. Kau tak pernah tahu indahnya dunia demi putri kecilmu. Kau bayar studi wisataku ke Jakarta. Tapi sesungguhnya kau sendiri tak pernah ke sana. Kau kenalkan aku pada dunia. Walau sesungguhnya kau tak pernah tahu dunia yang kau kenalkan padaku seperti apa? Kau tak pernah ingin melihatku menjadi sepertimu. Kau gadai kebahagiaanmu demi putrimu, Putri yang sampai saat ini belum bisa memberimu apa-apa. Kau yang kukenal dulu berubah 180 derajat. Tubuhmu tak lagi tegap. Tubuhmu mulai membungkuk seperti udang. Wajahmu tak lagi segar. Wajahmu menghitam dibakar panasnya sang surya. Tak pernah kulihat kau mengeluh tentang hidup.
Ayah, terlihat senyummu mengembang ketika melihat aku pulang membawa bungkusan yang berisi sedikit makanan. Kau terlihat kegirangan, padahal makanan itu kubeli dari uang saku yang kau berikan. Ayah, kau selalu menganggapku anak kecil yang tak tahu apa-apa. Ketika usiaku 17 tahun, kau masih menganggapku anak kecil yang baru belajar berjalan. Kau menuntunku karena kau takut aku terjatuh. Ayah, kau tunjukkan judul berita di harian kota yang isinya tentang. `lebih dari 50% pelajar SMP sudah tidak perawan`. Aku tahu maksudmu ayah. Kau takut aku seperti itu, aku masih ingat itu berita ketika aku masuk kuliah tingkat pertama. Dalam diam kau perhatikan tumbuh kembang putrimu.
Ayah, kali ini usiaku menginjak kepala dua. Kau tetap saja menganggapku seperti anak-anak. Ketika menonton salah satu acara televisi, aku tiduran di sampingmu dan baru kali itu kau pegang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku dan bergumam lirih, `sekarang mah Nie udah gede` Kutahan dan kubendung air mataku. Ayah apa kau takut kehilanganku? Aku tak akan menghilang dari kehidupanmu. Ayah, aku kadang membencimu karena kehidupanmu selalu didominasi oleh pemikiran orang lain. Tapi, aku tak menyalahkanmu, karena aku tahu, kau tak demikian. Ayah, aku rindu senyummu. Ayah, sampai kapan pun aku tetap putrimu, putri kecilmu. Aku sayang ayah, aku sangat ingin ayah peluk saat ini. Aku ingin mendapat pelukan hangat dari kedua orang tuaku. Ayah, ibu, aku tetap putri kalian sampai kapan pun juga, aku tahu kalian berdua khawatir tentang aku dan kehidupan aku. Aku tahu kalian takut aku tak bahagia. Ayah, ibu, doakan aku mendapat suami yang bisa membimbingku selalu ada di jalanNya. Tenanglah ayah, ibu, aku akan baik-baik saja dan hidup bahagia bersama suamiku kelak, suami yang sangat pengertian dan mencintaiku karenaNya.
Aku hanya bisa menuliskan ini untukmu, ayah dan ibu. Ma, Nie kangen Iya. Nie sayang Iya. Maaf Ma, bukan Nie ngejauh atau sengaja menghindar dari kehidupan kalian. Hidup sendiri rasanya sulit. Tapi pada akhirnya pun bukan kah kita akan hidup sendiri-sendiri pula? Ma, aku ingin melihat kalian bahagia ketika melihatku, bukan meneteskan air mata. Ma, waktu Nie semakin hari semakin dekat untuk kembali padaNya. Maafin Nie Ma, Pak. Nie sayang mama, bapak sama Iya . Nie minta maaf, Nie sayang kalian.
Maafkan…
Putrimu
Kryptonite Angel
18082011
22:47